Berhati-hatilah! Dengan penyesalannya
manakala dunia pergi darimu. Orang yang cerdas sama sekali tidak
tergantung pada sesuatu (dunia) yang apabila dunia datang-ia sibuk dan
apabila pergi-ia menyesal. Lalu ada yang berkata padanya, “Mereka telah
memburu dan mereka telah terampas.”
IKHLAS adalah siapapun yang
meraih sedikit saja dari dunia secara halal dengan disertai etika
(adab), hatinya telah selamat dari pengotoran dan dari neraka hijab.
Etika (adab) di sini ada dua
macam: Adab sunnah dan adab ma’rifat. Adab sunnah adalah berpijak pada
ilmu pengetahuan melalui tujuan dan niat yang baik semata bagi Allah.
Sedangkan adab ma’rifat disertai izin, perintah, ucapan dan isyarat
yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Isyarat di sini, merupakan pemahaman
dari Allah terhadap hamba-Nya melalui cahaya keindahan-Nya dan
keagungan-Nya.
Ilahi, dunia ini hina, hinalah
orang yang berkubang di dalamnya, kecuali dzikrullah. Sedangkan akhirat
itu mulia, dan mulia pula orang yang ada di dalamnya. Sementara Engkau
yang menghinakan kehinaan dan memuliakan kemuliaan. Lalu, mana bisa
mulia orang yang memburu selain Diri-Mu? Tahu bagaimana bisa zuhud orang
yang memilih dunia bersama-Mu? Maka benarkanlah secara hakiki diriku
dengan hakikat zuhud sehingga aku tidak membutuhkan lagi mencari selain
Diri-Mu, dan kokohkan dengan hakikat ma’rifat sehingga aku tidak butuh
mencari-Mu lagi.
Ilahi, bagaimana orang yang
mencari-Mu bisa sampai kepada-Mu, atau bagaimana orang yang lari
dari-Mu bisa kehilangan Diri-Mu? Maka carilah aku dengan kasih
sayang-Mu, dan jangan engkau cari diriku dengan siksa-Mu wahai Yang Maha
Pengasih, wahai Yang Maha Menyiksa.
“Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”
Tak ada masalah besar bagi kami,
kecuali dua hal ini: cinta dunia secara berlebihan dan rela menduduki
kebodohan. Sebab, cinta dunia itu tonggak dari segala dosa besar,
sedang menempati kebodohan adalah tonggak segala kedurhakaan. Sungguh
Allah memperkaya dirimu jauh dari dunia lebih baik dibanding Allah
memperkaya dirimu dengan dunia. Maka demi Allah tak seorang pun bisa
kaya dengan dunia, sebab bagaimana bisa kaya dengan dunia, sementara
firman-Nya: “Katakanlah, sesungguhnya harta dunia itu amat sedikit.”
Ada seseorang datang kepadaku,
ketika aku ada dalam gua di Marokko. Lalu ia berkata padaku, “Engkau
punya keahlian di bidang ilmu kimia, ajarilah aku.” Kukatakan padanya,
“Baik aku akan mengajarimu tentang kimia, namun aku tidak memperdayaimu
dari ilmu kimia itu satu huruf pun, seandainya engkau menerima, dan aku
lihat engkau tidak akan menerima...?” Orang itu menjawab, “Hai, demi
Allah aku pasti menerima.” Lalu kukatakan, “Gugurkanlah makhluk dari
hatimu, dan putuskanlah keinginan agar Tuhanmu memberikan sesuatu yang
selain apa yang telah diberikan padamu dari Tuhanmu.” Orang itu
menegaskan, “Sungguh, aku tidak mampu menjalankan ini!”. Lalu kukatakan
padanya, “Bukankan sudah kukatakan padamu, kalau engkau tidak akan
menerima. Kalau begitu pergilah.”
Ada empat perkara, jadilah dirimu bersamanya, dan masuklah kapan saja engkau mau.
- Janganlah engkau mengangkat pemimpin yang kafir,
- Janganlah memandang orang mukmin sebagai musuh,
- Jauhkanlah hatimu dari dunia dan bersiaplah menyongsong kematian, dan
- Bersaksilah bagi Allah dengan Keesaan-Nya, dan bersaksilah bagi Rasul dengan risalahnya. Lalu amalkanlah. Ucapkan: “Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, seluruh takdir-Nya, dan seluruh kalimat-kalimat yang bercabang-cabang dari Kalimat-Nya (Kami tidak membedakan antara seseorang dari para Rasul-Nya) dan kami katakan sebagaimana mereka katakan, (kami mendengar dan kami patuh, hanya ampunan-Mu wahai Tuhan kami, dan kepada-Mu lah tempat kembali).”
Apabila
engkau ingin benar dalam ucapan, maka resapkanlah dalam dirimu dengan
membaca: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an di malam qadar
(lailatul qadr)”.
Apabila engkau ingin ikhlas beramal, resapkan dalam dirimu dengan membaca: “Katakanlah: Allah itu Esa”
Apabila engkau ingin luas dalam
riziki, resapkankan dalam dirimu dengan membaca: “Katakanlah: Aku
berlindung pada Tuhannya manusia.”
Aku pernah melihat Rasulullah
Saw. bersabda: “Ada empat perkara yang tak bisa dipahami sama sekali,
sedikit ataupun banyak: Cinta dunia; alpa akhirat; takut miskin dan
takut manusia.”
Lepaskanlah dirimu dari
berlebihan terhadap cinta dunia, tinggakanlah untuk terus menerus
bermaksiat, langgengkanlah pada masalah rahmat laduniyah (dari sisi
Allah), dan mohonlah pertolongan melalui rahmat itu pada segala
tindakan, serta janganlah hatimu bergantung dengan sesuatu, maka engkau
termasuk orang-orang yang sangat mendalam (dan benar) dalam ilmu,
dimana rahasia batin dan ilmu tidak pernah hilang.
Apabila muncul gangguan hatimu
berupa bisikan maksiat dan dunia, lemparkanlah bisikan itu di bawah dua
telapak kakimu sebagai sesuatu yang hina, sekaligus sebagai refeksi
zuhud, lalu penuhilah hatimu dengan ilmu dan petunjuk.
Apabila engkau berhadapan dengan
suatu yang menjadi bagian dari dunia maka bacalah: “Wahai Yang Maha
Kuat, wahai Yang Maha Perkasa, wahai Yang Maha Mengetahui, wahai Yang
Maha Kuasa, wahai Yang Maha Mendengar, wahai Yang Maha Melihat.”
Manakala tambahan bekal tiba,
berupa bekal dunia maupun akhirat, maka bacalah: ”Cukuplah Allah bagi
kami, Allah akan memberikan kepada kami dari karunia keutamaan-Nya dan
demikian (pula) Rasul-Nya, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang
berharap kepada Allah.” (QS. at-Taubah: 59)
Wahai orang yang berhasrat pada
jalan selamat Allah Azza wa Jalla yang beruntung menuju hadirat
Kehidupan-Nya, jauhilah memperbanyak diri atas apa yang diwenangkan
Allah kepadamu. Tinggalkan apa yang tidak masuk dibawah ilmumu dari apa
yang telah dihalalkan oleh Allah bagimu. Bergegaslah menuju
kewajiban-kewajibanmu, dan tinggalkan kesibukan manusia pada umumnya
untuk menjaga batinmu. Maka dalam hal meninggalkan memperbanyak diri,
merupakan zuhud, dan meninggalkan hal-hal yang tidak termasuk dalam
ilmumu adalah wara’. Renungkan sabda Rasulullah Saw. ”Kebaikan adalah
yang menentramkan jiwa dan menentramkan kalbu. Sedangkan dosa adalah
sesuatu yang merajut-rajut dalam jiwa dan membawa keraguan dalam dada,
walaupun manusia lain telah menasehatimu dengan yang selain dosa itu.”
Maka fahamilah. Sibuk menjaga rahasia batin berarti menghormati hakikat-hakikat keimanan.
Jika engkau seorang pedagang
yang jeli, maka tinggalkanlah kemauanmu untuk pasrah pada kehendak-Nya,
disertai ridha pada seluruh aturan-Nya. “Dan siapakah yang lebih baik
daripada Allah sebagai hukum bagi orang-orang yang yakin?”
Cukup bagimu renungkan, ”Dunia
itu haramnya adalah siksa, dan halalnya adalah hisab.” Dunia yang tak
ada hisab kelak di akhirat dan tak ada hijab ketika di dunia, adalah
dunia yang bagi pemiliknya tidak mengandung hasrat kehendak sebelum
adanya dunia itu, dan tidak pula mengandung hasrat ketika dunia
menyertainya, tidak pula kecewa ketika dunia hilang dari sisinya.
Sedangkan kebebasan mulia hanya bagi orang yang meraih dunia secara
berhadapan, tanpa sedikit pun pengaruh yang memperdayai hatinya (karena
dunia itu).
Aku pernah bermimpi melihat Abu
Bakr ash Shiddiq, lalu beliau berkata padaku, “Tahukah engkau apa tanda
keluarnya cinta duniawi dari dalam kalbu?” Aku bertanya, “Apa itu?”
Beliau menjawab, “Meninggalkannya ketika ada, dan merasa ringan ketika
dunia tak ada.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar